KALAM

Tua Itu Pasti, Dewasa Adalah Pilihan

Berikut 4 Poin Kedewasaan, Nomor 1 dan 2 Sering Diabaikan

Medconas.com—- Kata orang, tua adalah kepastian tetapi dewasa adalah pilihan. Tua hanyalah persoalan umur. Orang tua belum tentu dewasa. Namun bagaimana dengan anak muda? Bisakah ia memilh menjadi dewasa? Apakah kedewasaan mensyaratkan umur tertentu?

Seorang novelis Lawana Blackwell pernah membuat sebuah quote yang sangat populer, “Age is no guarantee of maturity”, yang terjemahan bebasnya adalah, “umur bukan jaminan atas kematangan kedewasaan”.

Kedewasaan itu terdapat pada sikap dan perilaku. Banyak orang yang usianya sudah kepala 3, 4, 5, 6 dan seterusnya, tapi, perikakunya tidak mencerminkan kedewasaan atau berperilaku kekanak-kanakan.

Mengutip suara.com, Kedewasaan atau kepribadian yang matang itu memiliki ciri-ciri, di antaranya sebagai berikut:

  1. Sadar diri dan tahu diri

Menjadi dewasa erat sekali kaitannya dengan sikap sadar diri dan tahu diri. Kesadaran diri adalah keadaan dimana seseorang bisa memahami dirinya sendiri, memahami emosi dan mood yang sedang dirasakan, kritis terhadap informasi mengenai dirinya sendiri, dan sadar tentang dirinya secara nyata.

Merasa paling benar, tak tahu malu, dan sombong. Itu merupakan sebagian dari akibat tidak tahu diri. Mengetahui diri sendiri itu penting, tahu kemampuan diri, kekurangan kelebihan serta kapasitas diri memang dimiliki oleh setiap orang yang bersikap dewasa.

  1. Mampu menahan diri

Terkadang Anda memiliki keinginan yang harus diwujudkan. Ketika Anda bersikukuh agar keinginan tersebut bisa dicapai, sedangkan untuk meraihnya Anda harus menarabas hak-hak orang lain atau melalaikan kewajiban. Itu tandanya Anda tidak mampu menahan diri.

Tidak semua keinginan itu harus dikabulkan. Sebagai contoh, main game itu enak, tapi jika dimainkan sepanjang hari, justru akan merugikan Anda.

Contoh lain, ketika Anda mengalami sakit, lalu oleh dokter Anda dilarang makan ini dan itu. Tapi, karena Anda sembrono, justru makanan yang menjadi pantangan, malah Anda makan. Itu diakibatkan karena Anda tidak memiliki rem atau tidak mampu menahan diri.

Jadi menjadi dewasa itu mampu menahan diri. Kapan harus melakukan apa yang harus dilakukan dan kapan tidak.

  1. Memiliki Empati

Memiliki empati juga menjadi salah satu katakter orang yang dewasa. Ia mampu mengedepankan rasa ketika bersosialisasi dengan orang lain.

Dalam filsafat, empati itu disebut dengan istilah Transposisi. Yang berarti, Anda mampu memposisikan diri sendiri di posisi orang lain. Sehingga hal itu mampu menimbulkan tenggang rasa. Melihat orang yang sakit, ketika Anda empati, maka tergerak untuk menjenguk dan menghiburnya. Melihat orang yang sedang kelaparan, hati Anda tergerak untuk membantunya membelikan makanan. Hati Anda tergerak itu karena Anda membayangkan betapa susahnya jika Anda sendiri yang merasakan kelaparan.

4. Mau dan Mampu Bertanggung Jawab

Ciri lain bahwa Anda sudah dianggap memiliki kedewasaan adalah mau dan mampu bertanggung jawab. Siap menerima risiko apapun atas tindakan yang telah Anda lakukan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanggung jawab adalah keadaan di mana wajib menanggung segala sesuatu sehingga kewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatu yang menjadi akibat.

Bertanggung jawab dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana semua tindakan atau perbuatan atau sikap merupakan penjelmaan dari nilai-nilai moral serta nilai-nilau kesusilaan.

Dewasa Menurut Islam

Tradisi Rasulullah SAW,  para sahabat, dan para ulama dari zaman ke zaman memberi pelajaran berharga. Menjadi dewasa tidak harus melewati serangkaian ritual yang menyakiti tubuh, tidak harus mengikuti upacara yang sengaja direka untuk menyiksa. Menjadi dewasa dalam Islam identik dengan pendidikan untuk mampu menghadapi tantangan hidup dengan meniti jalan yang telah digariskan agama.

Menjadi dewasa dalam Islam artinya mengemban tanggung jawab dari Allah ta’ala. Anak-anak yang belum dewasa belum memiliki tanggung jawab. Dengan kata lain, ia belum mukallaf, dosanya tidak dihisab, amal baiknya tidak diganjar pahala. Jadi, dewasa dalam Islam ialah ketika mencapai usia baligh yang ditandai dengan haidh bagi wanita dan mimpi basah bagi laki-laki.

Masalah kemudian muncul tatkala manusia telah dewasa secara fisik tetapi masih anak-anak secara jiwa. Fisiknya telah baligh, namun pikirannya masih berangan-angan sebagai anak kecil yang hobi bermain kelereng, layangan, ke sana-ke mari tanpa beban, tanpa tanggung jawab, tanpa ada sedikit perasaan bahwa segala amal perbuatannya akan dihisab di hadapan Allah.

Umar bin Khattab r.a. pernah berpesan, “didiklah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka”. Petuah Umar benar-benar wujud nyata dalam pendidikan para ulama salaf. Kemuliaan seseorang, kedewasaannya, tidak diukur dengan kemampuan menahan lapar dan dahaga misalnya, atau kemampuan menahan gigitan semut peluru, melainkan dengan tanggung jawab, adab, dan akhlak yang baik. Pria dewasa yang siap menikah bukan hanya harus telah bersunat, lebih dari itu memiliki segala kemampuan untuk menjadi nahkoda bahtera rumah tangga mengarungi samudera kehidupan yang penuh gulungan badai dan terjangan topan.

Umar bin Khattab menikahkan putranya ‘Ashim dengan seorang gadis penjual susu bernama Zainab lantaran kejujuran dan ketaqwaan menantunya itu, bukan karena wajahnya telah ditato dengan pisau kayu. ‘Ashim bin Umar pun telah dididik oleh ayahnya dengan sebaik-baiknya sebagai orang dewasa. Oleh karena itu, ketika mendapatkan calon yang tepat, ia menawarkan ke putra-putranya, lalu pilihan itu jatuh kepada ‘Ashim.

Anak-anak kita hari ini dipaksa menjadi anak-anak sebelum 18 tahun, padahal mereka telah baligh dalam usia 12-13 tahun. Mereka diperlakukan sebagai anak-anak, dididik sebagai anak-anak, dan tidak diberi tanggung jawab seperti orang dewasa. Karena dipaksa menjadi anak-anak, akhirnya mereka pun bertingkah seperti anak-anak: mabuk game, mabuk gawai, berbuat onar, dan tidak ikut membantu keluarga mencari nafkah.

Semua ini karena mereka merasa masih anak-anak. Mereka merasa masih tanggung jawab orang tua sedang mereka sendiri belum memiliki tanggung jawab apapun selain duduk manis di bangku sekolah, mengerjakan PR, dan rajin belajar agar mampu menjawab soal ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi.

Fenomena ini perlu dikoreksi. Anak-anak yang telah baligh adalah orang dewasa, dalam arti memiliki beban tanggung jawab di hadapan Allah seperti orang dewasa. Amal baik-buruknya telah dihitung. Kertas hidupnya tidak putih lagi. Pena malaikat telah mencatat. Mereka harus dididik sebagai orang dewasa.

* Diolah Dari  Berbagai Sumber

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button