HUMANIORA

Rahasia Kesuksesan

Oleh: H. Albar Sentosa Subari*

Saat anda berjalan menuju kesuksesan, anda akan merasakan nilai dari pertarungan dalam mencapai kesuksesan. Di saat anda merenungi diri anda akan mengamati peristiwa yang terjadi di sekitar, anda akan mendapati banyak pertarungan yang berada di sana sini.
Supaya anda dapat bertahan dalam kesuksesan yang terbatas, anda harus menyempurnakan teka teki itu.
Rahasianya antaranya adalah Keridhaan, Kerja nyata, Keharmonisan sosial, Kesuksesan Akhirat.
Rahasia pertarungan dalam diri manusia adalah terjadinya pertentangan yang sering dilakukan kebanyakan orang dalam praktek kehidupan sehari-hari. Dan itu menyebabkan anda merasa sempit dan tertekan di dalam hidup. Pada akhirnya nanti, manusia akan mencari keridhoan dan kebahagiaan. Bisa jadi, seseorang memiliki kemampuan yang besar dan ketrampilan yang unggul. Akan tetapi, dia akan menanyakan kepada dirinya, Apakah saya bahagia?.
Pertanyaan yang tersulit untuk dijawab manusia adalah saat dia menyendiri dengan dirinya dan memperhatikan keadaan sekitarnya. Saat dia menanyakan dirinya, apakah saya bahagia? . Mungkin dia telah mencapai jabatan tertinggi dan memiliki harta yang berlimpah, atau bahkan dikagumi dan menjadi buah bibir banyak orang. Akan tetapi, apakah dia bahagia. Apakah kebahagiaan yang telah dia capai itu adalah kebahagiaan yang sejati. Ataukah kebahagiaan simbolis saja?. Apakah dia merasakan ketentraman dan kebahagiaan yang mendalam di lubuk hatinya.
Diantara pertanyaan yang paling berpengaruh dalam diri kita adalah pertanyaan. Siapakah saya. Apakah anda memili Ki tujuan hidup?, Apakah anda akan meninggalkan jejak yang baik setelah kematian?.
Banyak orang mengabaikan pertanyaan ini. Mereka terseret dalam baling baling kehidupan yang tidak kenal lelah. Dari hari ke hari, dan dari waktu ke waktu hanya terjebak dalam rutinitas yang hampa dan mematikan. Pertanyaan ini meresap sampai ke dalam hati hingga menghasilkan kegalauan.
Kegalauan ini menghilangkan keridhaan dalam diri manusia. Akibatnya adalah depresi bagi masyarakat barat. Karena nya 80 persen dari masyarakat Amerika kerap mengkonsumsi obat penenang atau obat obat terlarang, kenapa? . Karena tidak ada ketenangan di dalam diri mereka.Demikian juga di Swedia resah dan bingung, padahal bangsa Swedia adalah satu satunya bangsa dengan tingkat perekonomian paling tinggi. Dalam hidup mereka tidak ada rasa takut miskin, takut menganggur, dan gamang menghadapi masa senja. Namun bersama dengan itu mereka terasa sempit, penuh dengan keluhan, kebencian, kecurigaan, kejenuhan, kepuasaan hingga jalan terakhirnya adalah bunuh diri. ( Lihat, Al-Iman wal Hayat, hal, 67-68, dalam Dr. Thariq Muhammad ad Suwaidan Faishal Umar Basyarahil, terjemahan Hudzaifah Ismail, penerbit Magrifah Pustaka, 2004, h.35.
Inilah siksaan bathin paling menderita yang telah menyerang diri manusia, yang telah mengakibatkan hampir 300 orang perwira meliter, 10 orang di antaranya di New York, melakukan bunuh diri. Dan sejak tahun 1987, para perwira yang mati bunuh diri bahkan bertambah banyak. (Koran asy-Syarqu Al- Ausath, no. 5823, 4/6/1413 H. Ibid.)
Semua nya itu menyebabkan siksaan bathin, keraguan, keguncangan dan keresahan yang tidak wajar. Hanya saja, Islam melenyapkan semua siksaan tersebut dengan….
Orang orang yang beriman dan mendapatkan ketentraman hati mereka dengan mengingat Allah, dan ketahuilah ( bahwa) dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tentram. QS. Ar-Ra’du: 28.
Sesungguhnya, rahasia Kesuksesan adalah ketenangan dan ketenteraman hati yang bisa membuat manusia menikmati kehidupan nya. Itulah rahasia yang dihembuskan oleh Imam Qayyim dalam kata kata
Dalam hati ada kekusutan dan tidak bisa diuraikan kecuali dengan menghadapkan nya kepada Allah. Ada juga kebuasan, yang tidak terjinakkan kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah. Di dalam nya ada kesedihan yang tidak bisa hilang melainkan dengan kegembiraan mengenal Allah dan ketulusan berperilaku sesuai dengan ketentuan Nya. Dalam hati ada kerisauan yang tidak bisa ditenangkan kecuali dengan perasaan bersama dengan Nya dan kembali kepada Nya. Di dalamnya juga ada api perasaan yang bergejolak yang tidak akan padam kecuali dengan keridhoan akan perintah, larangan, dan ketentuan Nya. Serta mengalunginya dengan kesabaran hingga hari pertemuan dengan Nya. Di dalamnya terdapat keinginan yang tidak terpuaskan kecuali dengan cinta dan kepasrahan serta mengingat Allah terus menerus, penuh ikhlas mengabdi kepada Nya. Meski diberikan bumi beserta isinya, keinginan itu takkan pernah terpuaskan sama sekali. Ibid, hlm 78. (**)

*Penulis adalah pengamat sosial dan keagamaan di Sumatera Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button