HUMANIORA

Rumah Makan Padang Identitas Budaya

Oleh: H Albar Sentosa Subari*
Dewasa’ini sedang menjadi perbincangan yang hangat berkaitan dengan berdiri nya rumah makan ataupun warung yang bermenukan ” Rendang Padang berlebel ” Babiambo” yang berlokasi di Jakarta.
Tentu saja akan mendapatkan tanggapan masyarakat umum, khusus masyarakat Minangkabau Sumatera Barat.
Dari sisi masyarakat umumnya tentu ada yang pro dan kontra.
Artikel kita seperti judul di atas hanya akan menyoroti secara nilai nilai budaya masyarakat Minangkabau Sumatera Barat , yang tentunya mereka sangat keberatan dan sangat menyinggung berat , karena mereka memiliki budaya khas yang sudah kita kenal mendunia yaitu ” Masakan Padang’.
Adat budaya masyarakat Minangkabau erat sekali hubungannya dengan agama Islam, sebagaimana terungkap dalam philosofi mereka yaitu Adat bersandi Syara’ , Syara’ bersandi Kitabullah. ( Baca Al Quran).
Sehingga jelas sebagai tolok ukurnya adalah apakah makanan itu haram atau halal sudah diatur dalam Al Qur’an.
Kemarahan atas peristiwa di atas dengan adanya warung Babiambo akan menyulut masyarakat Minangkabau , sebagaimana disuarakan oleh Gubernur, Ketua MUI baik Propinsi maupun di Pusat.
Dan tidak ketinggalan juga keberatan tersebut disuarakan oleh Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM).
Selaku Ketua Pembina Adat Sumatera Selatan sangat mendukung rencana Pemerintah Propinsi Sumatera Barat, untuk memberlakukan sertifikasi HALAL khusus nya untuk masakan Minang, yang dikeluarkan oleh Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau baik yang berada di Sumatera Barat maupun cabang cabangnya di seluruh Indonesia. Karena secara fakta ada juga rumah atau warung yang menggunakan identitas khusus Masakan Minang, yang pengelolaannya ataupun pemiliknya tidak berkaitan dengan suku Minangkabau.
Sehingga perlu di identifikasi dan inventarisasi rumah ataupun warung berlebel yang menggunakan identitas khusus Masakan Minang.
Sebab setiap konsumen yang akan membeli dan mengkonsumsi makanan tersebut pasti dan yakin tidak ada unsur unsur yang bertentangan dengan syariat Islam dan nilai budaya masyarakat Minangkabau khususnya.
Malah yang sangat disayangkan bagi kelompok kelompok tertentu membanding bandingkan dengan kasus kasus yang tidak ada relevansinya dengan jenis makanan yang dimasak ataupun diolah oleh etnis etnis tertentu. Tentu saja ini tidak akan menyelesaikan masalah , malah akan menimbulkan pertentangan sesama warga masyarakat Indonesia yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa. (**)
*Penulis adalah Pengamat Hukum di Sumatera Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button