MURATARA

Melangkah dari Kampus, Mengabdi untuk Negeri

Mahasiswa Berdampak Aksara Peduli Menuju Karang Dapo

Palembang (medconas.com) — Pengabdian tidak selalu dimulai dengan langkah besar. Terkadang, ia berawal dari keberanian untuk meninggalkan ruang-ruang kelas, menyapa kehidupan masyarakat, dan belajar memahami persoalan secara langsung. Semangat inilah yang mengiringi pelepasan mahasiswa dari STISIPOL Candradimuka dalam program Mahasiswa Berdampak Aksara Peduli menuju Karang Dapo, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, pada 18 Oktober 2026.
Pelepasan tersebut bukan sekadar seremoni pemberangkatan mahasiswa menuju lokasi pengabdian. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi titik awal perjalanan untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan realitas kehidupan masyarakat. Di tengah lingkungan sosial yang memiliki beragam kebutuhan dan tantangan, mahasiswa diharapkan hadir bukan hanya sebagai pembawa gagasan, tetapi juga sebagai mitra yang bersedia belajar, berinteraksi, dan berkontribusi.
Program Mahasiswa Berdampak Aksara Peduli diketuai oleh Dr. Arif Rahman Hakim, M.Si., dengan anggota Dr. Icuk Muhammad Sakir, M.Si., dan Dr. Nopriawan Mahriadi, M.Sc. Tim ini berperan dalam mendukung pelaksanaan program agar kegiatan pengabdian mahasiswa dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.
Membawa Pengetahuan, Menumbuhkan Kepedulian
Bagi mahasiswa, perjalanan menuju Karang Dapo menjadi kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat dari perspektif yang lebih dekat. Pengetahuan yang selama ini diperoleh melalui perkuliahan akan memperoleh makna baru ketika berhadapan langsung dengan kondisi sosial, kebutuhan warga, serta dinamika kehidupan di lingkungan masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mengembangkan kepekaan sosial, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Melalui program Aksara Peduli, mahasiswa diharapkan mampu membangun interaksi yang positif dengan masyarakat Karang Dapo. Kehadiran mereka diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Di satu sisi, mahasiswa dapat belajar memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Di sisi lain, masyarakat diharapkan memperoleh manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal.
Semangat inilah yang menjadikan pengabdian masyarakat lebih dari sekadar pemenuhan program akademik. Pengabdian merupakan proses belajar bersama yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam menentukan arah dan keberhasilan kegiatan.
Dari Kegiatan Seremonial Menuju Dampak Nyata
Tantangan utama dalam setiap program pengabdian bukan hanya memastikan kegiatan terlaksana, melainkan juga menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Karena itu, pelepasan mahasiswa menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: menerjemahkan rencana kegiatan menjadi kontribusi yang relevan dengan kondisi di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan mengikuti rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan sebagai bagian dari program Aksara Peduli. Kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong keterlibatan aktif mahasiswa sekaligus membangun hubungan yang baik dengan masyarakat setempat.
Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya dapat dilihat dari terlaksananya seluruh agenda kegiatan, tetapi juga dari kualitas interaksi yang terbangun, manfaat yang dirasakan masyarakat, serta pengalaman pembelajaran yang diperoleh mahasiswa.
Dengan pendekatan yang mengedepankan kepedulian dan partisipasi, program ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, bekerja bersama warga, dan berkontribusi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
Memperkuat Sinergi Perguruan Tinggi dan Masyarakat
Terlaksananya program Mahasiswa Berdampak Aksara Peduli berkat bantuan hibah dari bima kemdiktisaintek tahun anggaran 2026. Bantuan hibah tersebut untuk  mendukung program Mahasiswa Berdampak Aksara Peduli. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pelaksanaan kegiatan agar berjalan lancar hingga mahasiswa diberangkatkan menuju Karang Dapo, Musi Rawas Utara. Kolaborasi semacam ini memiliki arti penting bagi pengembangan peran perguruan tinggi di tengah masyarakat. Kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pendidikan dan penelitian, tetapi juga ruang lahirnya gagasan serta tindakan nyata untuk menjawab berbagai kebutuhan sosial.
Melalui program pengabdian, hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan semakin erat. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan karakter, sedangkan masyarakat berpeluang menjadi mitra dalam proses pembelajaran dan penerapan pengetahuan.
Pada akhirnya, perjalanan mahasiswa menuju Karang Dapo membawa harapan yang lebih luas daripada sekadar keberhasilan sebuah program. Ada semangat untuk belajar dari masyarakat, membangun kepedulian, dan menghadirkan kontribusi yang berarti.
Sebab, keberhasilan pengabdian tidak semata-mata diukur dari seberapa jauh mahasiswa melangkah meninggalkan kampus, tetapi juga dari seberapa besar kemauan mereka untuk memahami kehidupan masyarakat dan memberikan manfaat melalui tindakan nyata.
Dari Palembang menuju Karang Dapo, langkah itu pun dimulai. Sebuah perjalanan yang diharapkan tidak hanya membentuk mahasiswa menjadi insan akademik yang berpengetahuan, tetapi juga menjadi pribadi yang peka terhadap persoalan sosial, mampu bekerja bersama masyarakat, dan berkomitmen pada keberlanjutan manfaat pengabdian. (Tim)

Related Articles

Back to top button