Dorong Percepatan Penurunan Stunting, Wagub Sumsel Ajak Semua Pihak Berkolaborasi

Palembang, Medconas.com–Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Selatan (Sumsel), H Mawardi Yahya menginstruksikan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menciptakan Program Dukung Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi Sumsel. Hal ini diungkapkannya saat membuka Rekonsiliasi Stunting di Provinsi Sumsel yang digelar di Hotel Novotel, Kamis (08/09/2022).
Mawardi mengatakan, diperlukan komitmen, koordinasi dan partisipasi mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa/ Kelurahan hingga lini lapangan untuk mensinergikan program dan kegiatan dalam upaya Percepatan Penurunan Stunting secara utuh, menyeluruh dan terpadu. “Kegiatan rekonsiliasi percepatan penurunan stunting tingkat Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2022 merupakan salah satu upaya dan komitmen bersama BKKBN, Pemprov Sumsel bersama seluruh pemangku kepentingan dalam upaya mensukseskan program ini khususnya di Sumsel,” katanya
Lanjutnya, sebagai bentuk komitmen, dirinya bahkan menginstruksikan agar Kepala Daerah di Kabupaten/Kota membuat sebuah kebijakan dan program terkait dalam rangka penurunan stunting di Sumsel. Dan mendukung arahan Presiden yang menargetkan penurunan angka stunting nasional menjadi 14 persen pada tahun 2024 mendatang. “Pada 2024 kita harus mencapai angka stunting 14 persen. Saya minta tolong pada kabupaten/kota untuk ikut menyukseskannya. Dana sudah diberikan, jangan sampai tidak sukses,” ujarnya.
Mawardi mengungkapkan, selain menekankan kepala daerah di 17 kabupaten/kota ia juga meminta OPD di tingkatan Pemda untuk berkontribusi dan berpartisipasi dalam penurunan stunting. “Terutama Dinkes, Dinsos dan OPD terkait lainnya. Rumuskan di dinas lainnya, bagaimana ikut membantu menurunkan stunting. Kontribusi akan terlihat dari cerminan anggaran di OPD, bagaimana kontribusi mereka dalam penurunan stunting,” ungkapnya
Dijelaskannya, penurunan prevalensi stunting itu jadi salah satu program prioritas dari Presiden dalam kurun waktu hingga 2024. “Target tidak akan tercapai jika tak ada kerjasama dari semua pihak. Perlu kerja keras dalam program penurunan stunting. Termasuk pula peran perusahaan melalui CSR-nya juga diharapkan bisa berkontribusi,” jelas Mawardi
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan, Mediheryanto SH MH mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai sinkronisasi untuk dapat mengambarkan situasi dan kondisi yang real time serta melihat keberhasilan/kegagalan terhadap hasil kerja TPPS dalam percepatan penurunan stunting yang telah dilaksanakan pada 17 kabupaten/kota Provinsi Sumatera Selatan. “Target penurunan prevalensi stunting di Sumsel terus dikejar. Tahun ini penurunanya diharapkan bisa 3,6 persen untuk menggenapi 10,8 persen dalam tiga tahun atau periode 2022-2024 menjadi 14 persen,” katanya
Lanjutnya, Pada 2021, angka stunting di Sumsel sebesar 24,8 persen, lebih tinggi dari nasional 24,4 persen. Capaian itu, sedikit lebih baik dibandingkan 2019 sebesar 27,6 persen. “Target tahunan harus bisa turun 3,4-3,6 persen. Untuk tahun ini kita belum dapatkan hasilnya, nanti di September atau Oktober baru dilakukan survei dari SSGI (Studi Status Gizi Indonesia),” ujar Mediheryanto
Mediheryanto mengungkapkan, angka stunting di Sumsel masih cukup tinggi. Di beberapa daerah masih di atas 20 persen, bahkan dua daerah 30 persen lebih. Hanya dua daerah yang angkanya belasan persen. “Masih banyak yang di atas 20 persen bahkan 30 persen masih ada. Semua daerah jadi lokus kita. Tapi ada daerah prioritas yang akan jadi lokus kita dalam menurunkan angka stunting ke depan di Sumsel,” ungkapnya
Dijelaskannya, Dari data SSGI, prevalensi stunting tertinggi (tinggi badan menurut umur) ada di OKI sebesar 32,2 persen dan OKU 31,1 persen. Sementara 13 daerah yang di atas 20 persen adalah Muara Enim 29,7 persen, OI 29,2 persen dan Muratara 28,3 persen. Kemudian Mura 28,3 persen, Empat Lawang 26 persen, OKU Selatan 24,8 persen, Muba 23 persen, Lubuk Linggau 22,8 persen, Lahat 22,4 persen, Banyuasin dan Prabumulih 22 persen. Seoanjutnya OKU Timur 21,5 persen dan Pali 20,2 persen. Terendah ada di Palembang 16,1 persen dan di Pagar Alam 15,5 persen. “Kita sudah lakukan analisis situasi, nanti hasilnya kita lakukan pemetaan lokus-lokis prioritas untuk penurunan stunting. Kita juga perkecil sasaran di wilayah desa dan kelurahan,” jelas Mediheryanto



